Bismillah,
menurutku Skilas Cup ini kepanitiaan terlucu di dunia. Entah kalau ada yang lebih lucu, tapi yang jelas, cobaannya segudang.
Waktu tiap orang tanya, "Bi sing ndaftar wis piro?"
Waktu Bayu purik gak mau keluar sosialisasi.
Waktu Bayu cerita soal SMA Pawiyatan yang njaluk di fax.
Waktu Bu Ima sms "mbak, sudah dihubungi pak eddy soal rapat pembina?"
Waktu Iwan bilang, "aku lek ngomong opo-opo nang kon ae"
Waktu lampu mati pas hari pertama, pemadaman oleh PLN padahal jelas-jelas mereka jadi sponsor di backdrop.
Waktu Bu Febi, yang gigih memperjuangkan anak didiknya ternyata adalah guru biologi dari SMA Al-Irsyad, bukan guru agama.
Waktu Probo bilang "gini ini derita single parent" pas tau anak-anaknya kececeran di mana-mana.
Waktu Alfin bilang, "trus tadi itu halaman 8 nya cerdas cermatnya ilang, jadi kasian PK nya ya. Udah kepanasan, bosen, masih ada waktu 1,5 jam, adek-adeknya meraung-raung maaas mana halaman 8 nyaaaaaa" pas evaluasi.
Waktu aku bolak-balik bilang ke Aldi, "Dek senyum!!" dan dia senyum dengan gak biasa.
Waktu aku ngeplaki kepalanya humas karena mereka lugu.
Waktu aku ngetawain humas karena mereka bertiga selalu bersama kayak bebek, Namira dengan dua anaknya.
Waktu liat ratusan sertifikat berjejer yang belum diterima tuannya.
Waktu tau kalo sertifikat itu ternyata belum semuanya dicetak.
Waktu Dimbo bilang "Bi!! aku mengundurkan diri!!! males nggarap LPJ!!" setelah semua panitia tak usir ke DBL, liat SMALA vs SMAN 1 Tuban.
Dan, setelah helmnya tak tendang, tak uncali sepatu, dan aku ngamuk-ngamuk ke dia, Baskoro merasa aku dan dia gak pernah gak akur.
Alhamdulillah masih bisa ketawa.
Dan Insya Allah gak sia-sia
Minggu, 27 Mei 2012
Minggu, 20 Mei 2012
Pisuh
"adek iki njaluk dipisuhi kok"
Mungkin dikiranya aku tak tahu update-annya yang mengudara ke belahan utara dan selatan dunia itu. Tapi aku tahu, tinggal klik saja. Dulu saat aku membacanya, aku meringis ia tidak melakukannya padaku. Saat itu kami berakhir tidur sekamar (dengan masih memakai seragam) di rumah teman Ibu dan sepakat membolos keesokan harinya.
Kini aku cengar-cengir sendiri mengingatnya.
Dulu jika aku menggedor kamarnya jam lima pagi, meminta disupiri ke sekolah atas nama masa orientasi, ia akan memraktekkan kegilaannya di game pada Katana kebanggaan kami. Mungkin 100km/jam dikuasai mesinnya yang hanya seribu mililiter itu.
Kini aku sendiri yang mencobanya di pagi buta. Dan rekorku baru mencapai 90km/jam, masih nggilani.
Dulu aku bisa bertengkar dengannya berjam-jam hingga membanting-banting barang gara-gara.... makanan.
Kami akan saling menuduh siapa yang menghabiskan susu di kulkas, mochi, es krim, cokelat bahkan kopi. Aku sering kena dampratnya karena saat ia lapar, aku tidak jua memasak nasi.
Kini akulah sang penguasa lemari pendingin, tak akan ada lagi yang menghentikanku.
Dulu aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan merindukannya jika ia pergi.
Nyatanya kini.....
Mungkin dikiranya aku tak tahu update-annya yang mengudara ke belahan utara dan selatan dunia itu. Tapi aku tahu, tinggal klik saja. Dulu saat aku membacanya, aku meringis ia tidak melakukannya padaku. Saat itu kami berakhir tidur sekamar (dengan masih memakai seragam) di rumah teman Ibu dan sepakat membolos keesokan harinya.
Kini aku cengar-cengir sendiri mengingatnya.
Dulu jika aku menggedor kamarnya jam lima pagi, meminta disupiri ke sekolah atas nama masa orientasi, ia akan memraktekkan kegilaannya di game pada Katana kebanggaan kami. Mungkin 100km/jam dikuasai mesinnya yang hanya seribu mililiter itu.
Kini aku sendiri yang mencobanya di pagi buta. Dan rekorku baru mencapai 90km/jam, masih nggilani.
Dulu aku bisa bertengkar dengannya berjam-jam hingga membanting-banting barang gara-gara.... makanan.
Kami akan saling menuduh siapa yang menghabiskan susu di kulkas, mochi, es krim, cokelat bahkan kopi. Aku sering kena dampratnya karena saat ia lapar, aku tidak jua memasak nasi.
Kini akulah sang penguasa lemari pendingin, tak akan ada lagi yang menghentikanku.
Dulu aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan merindukannya jika ia pergi.
Nyatanya kini.....
Sabtu, 19 Mei 2012
Daun
Allahu akbar
Sungguh, Allah Maha Besar.
Aku agak cengo memandangi langit sore ini. Aku berusaha menularkan penyebabnya pada Baskoro.
"Ko, dontoken a"
Aku mengalihkan kepala ke arah daun yang terseret angin di lapangan utara itu.
Di antara panitia yang sedang menyapu kais-kais konsumsi sisa peserta.
Apa istimewanya?
Daun-daun yang jatuh dari pohon-enggan-tumbang itu membentuk suasana musim gugur, masalahnya dartadi angin seakan menyeret guguran tersebut ke arah panitia. Memaksa daun-daun itu untuk berkumpul dengan sesamanya yang akan berakhir di gerobak sampah.
Masalahnya kejadiannya tak hanya sekali. Berkali-kali angin itu menggiring daun agar menyatu dengan kawannya.
Dan masalahnya kejadian ini membuatku merinding sendiri.
Allahu Akbar...
Sungguh, Allah Maha Besar.
Aku agak cengo memandangi langit sore ini. Aku berusaha menularkan penyebabnya pada Baskoro.
"Ko, dontoken a"
Aku mengalihkan kepala ke arah daun yang terseret angin di lapangan utara itu.
Di antara panitia yang sedang menyapu kais-kais konsumsi sisa peserta.
Apa istimewanya?
Daun-daun yang jatuh dari pohon-enggan-tumbang itu membentuk suasana musim gugur, masalahnya dartadi angin seakan menyeret guguran tersebut ke arah panitia. Memaksa daun-daun itu untuk berkumpul dengan sesamanya yang akan berakhir di gerobak sampah.
Masalahnya kejadiannya tak hanya sekali. Berkali-kali angin itu menggiring daun agar menyatu dengan kawannya.
Dan masalahnya kejadian ini membuatku merinding sendiri.
Allahu Akbar...
Kamis, 17 Mei 2012
"Aku wes nggolek,"
Sore itu angin berhembus di antara kami. Ia menarik nafas, bersiap untuk menyambung kata.
"sing ketemu awakmu"
Aku menatap matanya dalam, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Ada api yang tersulut dalam hatiku, setelah mengetahui goresan-goresan yang ku tanggung selama beberapa tahun malah menjadi seperti ini.
"oh, jadi aku mek alatmu, ngono?"
Ia mengalihkan pandangan ke arah kerikil di sudut kakiku. cepat-cepat kutendang kerikil itu, tanda aku tak ingin perhatiannya maraton ke tempat lain, bahkan ke secuil kerikil. Aku mengambil tasku,
"Yawes aku tak ngalih ae," aku beranjak
"Percuma"
Ia menggenggam tanganku, "seenggak e bantu aku.."
aku menatapnya lagi, terdiam
Sore itu angin berhembus di antara kami. Ia menarik nafas, bersiap untuk menyambung kata.
"sing ketemu awakmu"
Aku menatap matanya dalam, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Ada api yang tersulut dalam hatiku, setelah mengetahui goresan-goresan yang ku tanggung selama beberapa tahun malah menjadi seperti ini.
"oh, jadi aku mek alatmu, ngono?"
Ia mengalihkan pandangan ke arah kerikil di sudut kakiku. cepat-cepat kutendang kerikil itu, tanda aku tak ingin perhatiannya maraton ke tempat lain, bahkan ke secuil kerikil. Aku mengambil tasku,
"Yawes aku tak ngalih ae," aku beranjak
"Percuma"
Ia menggenggam tanganku, "seenggak e bantu aku.."
aku menatapnya lagi, terdiam
Senin, 14 Mei 2012
Jodoh
"kalau jodoh, nggak ke mana. Kalau nggak jodoh, gimana?"
Sebenernya udah agak tuwuk ngomongin jodoh, akhir-akhirnya berujung pada satu hal.
Nanti aja.
atau
Lihat aja ke mana takdir mengalir
ke arah siapa?
Sebenernya udah agak tuwuk ngomongin jodoh, akhir-akhirnya berujung pada satu hal.
Nanti aja.
atau
Lihat aja ke mana takdir mengalir
ke arah siapa?
Langganan:
Entri (Atom)